Terinspirasi dari selat Solo, terong dimasak dengan proses bertahap hingga lembut dan berpadu dengan kuah manis gurih dari sari tomat. Hidangan ini menjadi simbol kuliner diplomasi sejak masa K.G.P.A.A Mangkoenagoro IV, yang memperkenalkan perpaduan cita rasa Jawa dan Eropa sebagai wujud kemajuan dan kesopanan.


































