Buntut tanpa tulang digulung setelah melalui proses masak dengan laku sabar dan pengendalian api, lalu disajikan dengan kuah garang asem hijau yang asam, gurih, dan hening. Hidangan ini merupakan pengembangan yang sejalan dengan gagasan K.G.P.A.A Mangkoenagoro X dalam menafsirkan kembali cita rasa Jawa dengan sentuhan modern.


































